Pecinta Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf

Syukur, Inilah Yang Terbaik

Syukur, Inilah Yang Terbaik

Di suatu daerah, terdapat seorang pemuda yang begitu pandai dan bijaksana dalam berburu. Saking terkenalnya pemuda tersebut, kabar itupun sampai terdengar oleh Raja yang juga punya hobi berburu. Akhirnya diangkatlah si pemuda tersebut untuk menjadi penasehat sang Raja terutama dalam berburu.

Setelah beberapa waktu bersama Raja di istana, Raja begitu puas dengan nasihat – nasihat yang diberikan pemuda tersebut. Apalagi dalam perkara – perkara penting soal kerajaan, pemuda tersebut selalu memberikan saran dan nasihat yang terbaik kepada Raja dalam mengambil keputusan.

raja-penasehat

Suatu hari seperti biasanya, Raja pergi berburu dan memulai perjalananya ke hutan. Sayangnya dalam perburuan kali ini Raja kurang beruntung. Tidak sengaja, pedang sang Raja mengenani dirinya sendiri yang menyebabkan satu jari sang Raja terputus. “Drijine Tugel” kalau bahasa Jawa nya. Setalah itu Raja pun mengakhiri perburuan nya karea harus segera mengobati luka di jarinya. Beberapa hari kemudian luka di jari sudah sembuh, namun Sang Raja masih merasa galau dan sedih sebab kehilangan satu jarinya.

Mengetahui sang Raja yang begitu galau, gundah, merana, si Pemuda pun tidak tega dan tidak tinggal diam. Dengan penuh kebijaksanaan dan kepandaiannya, si Pemuda meyampaikan sebuah nasihat yang bijak untuk mengatasi kegalauan dari sang Raja.

“Sabar wahai tuan Raja, walau paduka telah kehilangan satu jari, yakinlah ini yang terbaik untuk paduka Raja”, ucap si Pemuda untuk mencoba menenangkan hati sang Raja.

“Yang terbaik? Apa buktinya? Bagaimana saya bisa bersabar dan tenang, saya ini sekarang menjadi Raja yang cacat, jari saya hilang satu”, ura sang Raja dengan geram dan marah.

Merasa terhina oleh si Pemuda, Raja pun menjebloskan si pemuda itu ke dalam penjara bawah tanah yang gelap. Beberapa hari kemudian Raja mengunjungi pemuda dan berucap, ” Bagaimana keadaanmu di sana, apakah kau masih bisa bersabar? Apakah itu yang terbaik untukmu?”

Dengan penuh ketenangan dan kearifan pemuda menjawab, ” Tentu saja inilah yang terbaik untuk saya”. Dengan penuh kesal Raja meninggalkan pemuda tersebut dan kemudian pergi berburu sendirian.

Sampai di pedalaman hutan di tengah perburuan, lagi – lagi Raja kurang beruntung karena masuk ke dalam perangkap suku pedalaman. Kemudian suku pedalaman pun segera menyiapkan ritual kemusyrikan dan akan menjadikan sang Raja sebagai tumbal yang akan dipersembahkan kepada gunung berapi. Raja mulai merasa ketakutan dan yakin bahwa inilah akhir dari kehidupan Raja.

Setelah persiapan ritual siap, pada detik – detik terakhir saat Raja akan dilemparkan ke dalam kawah, tiba – tiba kepala suku melihat jari jemari Raja yang sudah tidak sempurba karena tidak lengkap satu. Kepala suku pemimpin ritual membatalkan proses ritual dan mengatakan, “Orang ini tidak layak untuk jadi tumbal, tubunya sudah tidak utuh karena salah satu jarinya hilang. Lepaskan saja dia”.

Akhirnya dengan nafas terengah – engah dan lari terpincang – pincang, sang Raja berlari kembali ke istana dan langsung menemui si Pemuda yang sudah dijebloskan ke dalam penjara. Kemudian sang Raja berkata, “Ternyata kamu benar, segala sesuatu yang kita dapatkan adalah yang terbaik, meski terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kehilangan satu jariku merupakan yang terbaik untukku. Karena tidak memiliki satu jari ini menjadikan sebab aku selamat dari kematian. Maafkan aku yang telah salah menilaimu dan menyengsarakanmu dengan memasukkan kamu ke penjara”, ujar sang Raja kepada pemuda.

“Tak perlu minta maaf paduka, seperti yang sudah saya sampaikan, dijebloskanya saya ke dalam penjara ini adalah yang terbaik untuk saya. Seandainya paduka tidak memasukkan saya ke penjara, tentu saya akan menemani paduka berburu dan sayalah yang akan dijadikan tumbal oleh suku pedalaman. Berkat di penjara justru saya selamat”, jawab pemuda dengan arif dan bijaksana.

Apa hikmah dari kisah di atas?

Kita sering berburuk sangka kepada Allah SWT atas musibah dan masalah yang menimpa kita. Padahal Allah memiliki rencana yang terbaik untuk kita. Maka dari itu mari kita bersama – sama selalu berprasangka baik kepada Allah dalam keadaan apapun.

Sama seperti quote dari KH. Muhammad Miftahudduha (pendiri Syekhermania) yang berbunyi, “Alhamdulillah mbuh ngopo pokoke Alhamdulillah”. Semoga kita semua digolongkan menjadi hamba – hamba yang selalu bersyukur kepada Allah SWT. Amin amin ya robbal alamin.

Kisah ini diambil dari Buku “Syukur Bahagia Tanpa Henti”, karya Habib Novel bin Muhammad Alaydrus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *